0341-552180 [email protected]

 Dokumentasi setelah kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan pupuk organik cair (dokumentasi pribadi).

Pengelolaan limbah rumah tangga masih menjadi permasalahan yang sering dijumpai di lingkungan masyarakat, khususnya di Jl. Ps. Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Limbah organik seperti sisa sayur dan kulit buah umumnya belum dimanfaatkan secara optimal dan cenderung langsung dibuang. Faktanya limbah tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bernilai guna, salah satunya pupuk organik cair (POC).

Sebagai upaya memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut, Sejumlah Mahasiswa Universitas Negeri Malang melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengolahan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair. Kegiatan ini ditujukan kepada ibu-ibu rumah tangga yang sehari-hari berperan dalam mengelola limbah di rumah. Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah secara bijak sekaligus memberikan keterampilan praktis dalam mengolah limbah organik menjadi pupuk yang ramah lingkungan. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12, yaitu konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

Kegiatan ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap observasi lokasi tersebut pada tanggal 29 Januari 2026, dan tahap penyampaian materi serta praktik pembuatan pupuk organik cair pada tanggal 14 Februari 2026. Tahap observasi dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi lapangan serta permasalahan terkait pengelolaan limbah rumah tangga, sedangkan tahap kedua difokuskan pada pemberian materi dan pelaksanaan praktik pembuatan pupuk organik cair kepada peserta.

Pemaparan materi sosialisasi (dokumentasi pribadi).

Dalam pelaksanaannya Sosialisasi dan Praktik, kegiatan diawali dengan penyampaian materi terkait konsep pupuk organik cair serta manfaatnya bagi tanaman. Pupuk organik cair diketahui mampu meningkatkan kesuburan tanah secara alami tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, berbeda dengan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan. Selanjutnya, peserta yang telah hadir dapat menyaksikan serta mengikuti praktik secara  langsung pembuatan pupuk organik cair. Bahan yang digunakan cukup sederhana dan mudah diperoleh, seperti limbah dapur, air, air cucian beras, molase, dan Effective Microorganisms 4 (EM4). Proses pembuatan pupuk cair dilakukan dengan metode fermentasi selama kurang lebih 10 hingga 14 hari hingga menghasilkan pupuk cair yang siap digunakan.

“Kegiatan ini sangat membantu kami dalam memanfaatkan limbah dapur yang biasanya dibuang menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” ujar Sri, salah satu peserta kegiatan.

               
Demonstrasi penggunaan pupuk cair organik pada tanaman (dokumentasi pribadi).

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Ibu-ibu rumah tangga aktif mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari penyampaian materi hingga praktik langsung. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga secara lebih produktif. Selain memberikan manfaat dari sisi lingkungan, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Pupuk organik cair yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri maupun dikembangkan sebagai produk bernilai jual dalam skala rumah tangga.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat mulai menerapkan pola konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab serta berkelanjutan. Upaya sederhana ini menjadi langkah nyata dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs 12.