0341-552180 [email protected]

Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia akibat kekurangan atau resistensi insulin. Penyakit ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Berdasarkan data Federasi Diabetes Internasional (International Diabetes Federation/IDF), Indonesia menempati peringkat kelima sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia pada tahun 2021 mencapai hampir 20 juta jiwa.

Menanggapi tantangan ini, para mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang telah menghadirkan sebuah solusi dalam bidang deteksi kesehatan, dengan pengembangan sensor glukosa berbasis Locallized Surface Plasmon Resonance (LSPR) yang lebih sensitif, waktu respon cepat, dan biayanya rendah. Sensor ini memanfaatkan nanopartikel perak (AgNPs) dan metode ablasi laser Nd:YAG.

Penelitian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), dan SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Dengan memanfaatkan metode ablasi laser, para peneliti berhasil menghasilkan nanopartikel perak yang memiliki ukuran dan distribusi yang sangat seragam. Kemampuan LSPR perak yang sangat baik memungkinkan deteksi glukosa dengan tingkat akurasi yang tinggi sehingga membantu penderita diabetes dalam mengelola penyakitnya.  Kombinasi antara metode sintesis yang canggih dan material nanomaterial yang menjanjikan ini membuka peluang baru dalam pengembangan perangkat diagnostik yang lebih akurat, cepat, dan mudah digunakan. Sensor glukosa berbasis serat optik ini tidak hanya berpotensi meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).