0341-552180 [email protected]

Air sebagai kebutuhan primer makhluk hidup, utamanya manusia, memiliki perhatian khusus dari World Health Organization (WHO). Berbagai mineral terkandung dalam air, salah satunya kandungan garam atau salinitas. Menurut WHO, tubuh manusia membutuhkan kurang dari 5 gram/hari untuk menjaga volume plasma, keseimbangan asam-basa dalam tubuh, transmisi impuls saraf, dan fungsi sel normal. Namun, banyak manusia di berbagai belahan dunia yang mengonsumsi garam melebihi kadar yang direkomendasikan. Dampak negatif dari aktivitas tersebut mulai terlihat, seperti banyak manusia yang menderita tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyakir kardiovaskular. Selain itu, pada tahun 2023 WHO mengumumkan kurang lebih 2 juta jiwa meninggal setiap tahunnya akibat mengonsumsi garam dengan kadar yang berlebih.

Dalam upaya mengatasi permalasahan akibat kelebihan konsumsi kadar garam, Mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang berinovasi dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) AMLI 2024di bawah bimbingan Bapak Nurul Hidayat, S.Si., M.Si., Ph.D. untuk memonitor kadar salinitas dalam air dengan cepat, akurat, dan ramah lingkungan. Penggunaan serat optik sebagai sensor menjadi langkah awal dalam memonitor salinitas dalam air. Keunggulan yang dimiliki serat optik seperti struktur tahan korosi, fleksibel, dan kebal terhadap interferensi magnetik, memberikan potensi yang cukup besar. Namun, dalam upaya meningkatkan sensitivitas sensor, pelapisan nanokomposit material plasmonik pada serat optik dilakukan dalam penelitian ini. Nanopartikel emas (AuNPs) dan nanopartikel perak (AgNPs) merupakan material plasmonik dengan sifat optik yang unggul. Sehingga penggabunan AuNPs dan AgNPs menjadi nanokomposit emas/perak (Au/Ag NCs) memperluas jangkauan sensor. Sintesis Au/Ag NCs dalam penelitian ini dilakukan dengan metode ablasi laser Nd:YAG yang merupakan salah satu metode hijau sehingga dapat meminimalisir sampah kimia akibat sintesis nanomaterial. Selain itu, sintesis dengan metode ini menghasilkan Au/Ag NCs dengan kemurnian tinggi dan berdampak pada peningkatan sensitivitas sensor salinitas berbasis serat optik.

Penelitian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) dan SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi) dan 14 (Ekosistem Lautan). Penelitian ini juga sejalan dengan SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) karena pemanfaatan laser untuk sintesis nanopartikel tanpa menggunakan bahan kimia apapun. Selain itu, penelitian ini tidak hanya menjawab permasalahan riset tentang upaya peningkatan sensitivitas sensor salinitas berbasis serat optik. Penelitian ini juga membuka jalan baru dalam memonitor kadar salinitas dalam air secara akurat dengan menggunakan metode-metode yang ramah lingkugan. Inovasi yang tepat dengan melibatkan nanoteknologi dan instrumentasi fisika menunjukkan bahwa kadar garam dalam air dapat dideteksi dengan mudah, sederhana, dan akurat.