You are here: Home Blog Fisika E-learning yang (masih) aneh

Fisika UM

E-learning yang (masih) aneh

Ini adalah blog pertama saya. Walaupun saya telah memiliki situs sendiri dan masih dalam pengembangan namun perlulah rasanya menulis di rumah sendiri. (Kalau tidak saya sendiri lantas siapa ya yang harus mengisi?)

Selain itu saya interest dengan pembelajaran berbasis ICT yang salah satunya adalah e-learning. Tentang e-learning sendiri saya masih mempelajari modelnya seperti apa. Saya masih melihat e-learning yang dibuat oleh orang-orang (termasuk di UM) hanyalah e-informasi atau lebih parah hanya kumpulan e-book bahan ajar. Sebab saat e-book ini di download dan dicetak maka sudah bukan e-learning lagi. Dengan hanya memberikan e-book pasif saja maka tidak ada dinamika proses pembelajaran seperti di kelas. Dan anehnya hal seperti ini disebut e-learning dan pembuatnya merasa bangga.
Dari apa yang penulis pelajari e-learning seharusnya muncul dari kebutuhan dan bukan dipaksakan untuk meraih gengsi. Sebagai contoh saya menerima sms dari salah satu petinggi di kampus yang menyatakan kesedihannya karena penggunaan ICT di kampus rendah sehingga semua dosen diharuskan bikin blog, e-mail, tugas mahasiswa dikirim lewat e-mail dan lain-lain.

Ketika memikirkan perintah ini saya bertanya-tanya jika setiap tugas mahasiswa harus dikirim lewat e-mail maka mahasiswa sekarang harus menulis di word, kemudian mengupload, dan untuk itu semua butuh komputer, karena tidak semua mahasiswa punya komputer maka mereka harus ke warnet. Tentu semua ini perlu biaya. Padahal mahasiswa saya setiap hari bisa bertemu dengan saya, dan kalau ada tugas tentu lebih efisien jika mereka langsung menyerahkan kepada saya. Masa sekarang mereka kalau saya tagih tugasnya akan bilang "Sebentar Pak Saya ke warnet dulu, tunggu 10 menit kalau bandwidth lancar silahkan di download, nanti saya sms kalau sudah berhasil di upload".

Perhatikan mahasiswa harus keluar ongkos untuk ke warnet dan biaya kirim SMS! Itu dari sisi mahasiswa, dari sisi saya sebagai dosen, ketika saya menerima tugas dari e-mail mau tidak mau saya harus mencetaknya ke printer karena tugas itu harus dicoret-coret mana yang salah. Ini tentu saja menambah pengeluaran untuk beli kertas. Belum lagi harus langganan Speedy di rumah untuk jaga-jaga kalau jalur internet di kampus lagi lemot!

Jika diperhatikan sebenarnya desain pembelajaran di UM adalah pembelajaran klasikal sehingga tidak bisa dipaksakan harus berubah menjadi e-learning. Karena desain yang demikian maka ketika UM bikin e-learning (periksa http://e-learning.um.ac.id ) maka tidak memiliki bentuk yang jelas karena UM tidak memiliki peraturan perkuliahan secara e-learning. Hal ini terlihat dengan tidak adanya e-learning dalam buku Pedoman Pendidikan UM. Selain itu sebenarnya UM tidak punya alasan membuat e-learning karena biasanya e-learning adalah bagian dari distance learning.

Dari berbagai buku yang saya baca e-learning merupakan sistem pembelajaran yang belum matang (mature). Di Amerika dan Eropa masih banyak standar dan problem yang harus dipecahkan terkait dengan bagaimana e-learning diselenggarakan. Dari sisi teknologi (ICT-nya/kendaraannya) sudah tidak masalah seiring dengan semakin majunya teknologi elektronika. Jika diibaratkan mobil maka antara penumpang (e-learning) dengan kendaraannya (ICT) maka kendaraan melaju lebih cepat sehingga penumpangnya tertinggal dan terjengkang di belakang. Oleh karena itulah saya menulis judul E-learning masih aneh karena belum mampu menunggangi ICT sepenuhnya. Masih banyak PR dalam e-learning seperti masalah assessment (cheating dan plagiat), memindah model pembelajaran di kelas kedalam e-learning, interaksi guru-siswa; siswa-siswa; siswa-obyek; guru-obyek; dan guru-obyek-siswa, dan masih banyak lagi. Jadi problem utamanya e-learning terletak pada rancangan instruksionalnya (design instructional) bukan teknologinya.

Meski demikian banyak ahli pendidikan optimis dengan e-learning ini. Kita lihat saja perkembangan e-learning yang kalau dihitung memang menghemat pada satu sisi (keterjangkauan ruang dan waktu tak terbatas) tetapi juga mengakibatkan pengeluaran yang sebanding di sisi lain (biaya teknologi, persiapan, pembuatan, dan manajemen).

Newer news items:
Older news items:

 

UM | MIPA | Pimpinan UM | Elearning FMIPA | Physics Book