You are here: Home Blog Fisika Kelayakan PTK

Fisika UM

Kelayakan PTK

Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis pendidikan. Dengan demikian, penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggungjawab seorang pendidik di kelas. Tulisan ini merupakan cuplikan dari rangkaian tulisan yang pernah penulis buat dalam beberapa kegiatan. Semoga bermanfaat...!

Baca juga di blog saya

Berbagai macam upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, mulai  perubahan kurikulum yang tiap beberapa tahun ganti, hingga wacana peningkatan kesejahteraan guru. Adanya wacana ini yang membuat guru-guru sibuk menyiapkan administrasi hanya sekedar  mengejar mimpi yang belum tentu ada hasil.  Hal ini sebenarnya belum menyentuh substansi  permasalahan sebenarnya dalam dunia pendidikan.
Beberapa upaya peningkatan mutu pendidikan yang telah dilakukan antara lain peningkatan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan, pelatihan dan pendidikan, atau pemberian kesempatan untuk menyelesaikan masalah pembelajaran dan non pembelajaran secara profesional lewat penelitian tindakan yang terkendali.

Upaya tersebut perlu dilakukan mengingat guru mempunyai peran yang dominan dalam pembelajaran, dimana berhasil tidaknya pendidikan banyak tergantung pada faktor guru. Seperti penelitian yang dilaksanakan di 16 negara, penentu keberhasilan pembelajaran di sekolah adalah faktor guru (34%), manajemen (22%), waktu belajar (18%) dan sarana (26%). Karena faktor guru menjadi penentu keberhasilan pembelajaran, maka guru dituntut lebih profesional dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran. Salah satu wujud profesionalitas guru adalah kemampuan melaksanakan penelitian tindakan. Agar guru mempunyai bekal untuk meneliti, maka perlu adanya bimbingan teknis menyusun proposal penelitian sampai dengan membuat laporan penelitian dan menyusun artikel hasil penelitian. Disadari sesungguhnya bahwa kemampuan berinovasi telah dimiliki oleh sebagian besar guru. Namun, guru memiliki kendala dalam menyusun rancangan kegiatan tersebut dalam bentuk tertulis.

Hal ini dikarenakan apa yang dilakukan di masa depan berbeda dengan upaya di masa lalu. Upaya peningkatan kemampuan meneliti di masa lalu cenderung dirancang dengan pendekatan research-development-dissemination (RDD). Pendekatan ini lebih menekankan perencanaan penelitian yang bersifat top-down dan bersifat teoritis akademik. Akhir-akhir ini banyak dilakukan Penelitian Berbasis Tindakan (PBT) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pendidikan, dapat diaktualisasikan secara sistematis. Upaya-upaya inilah yang kemudian kita kenal dengan sebutan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Penelitian Tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Dengan demikian, penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi pembelajaran yang menjadi tanggungjawab guru.

Hanya saja, saat ini cukup banyak guru yang belum berkemampuan dalam melakukan kegiatan pengembangan profesi terutama dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan penelitian. Kemampuan tersebut banyak dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengalaman guru sehingga perlu dilakukan pengenalan, pembelajaran, dan pelatihan, serta fasilitasi dalam kegiatan penelitian tindakan kelas.


Syarat PTK

Dalam kesempatan ini, penulis mencoba memberikan beberapa kriteria kelayakan sebuah penelitian tindakan. Dalam pandangan penulis, sebuah penelitian layah dikatakan sebagai penelitian tindakan jika mengandung syarat-syarat berikut.


Pertama, peneliti, kolaborator dan murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Komitmen tersebut harus terwujud dalam keterlibatan mereka secara proporsional keseluruhan dalam kegiatan PTK. Andil tersebut terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi.

Kedua, peneliti dan kolaborator menjadi pusat penelitian sehingga dituntut untuk bertanggungjawab atas peningkatan yang akan dicapai.

Ketiga, tindakan yang dilakukan hendaknya didasari pada pengetahuan baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoritis maupun pengetahuan teknis prosedural yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.

Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah kerah yang lebih baik.

Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya.

Keenam, peneliti harus memantau secara sistematik agar mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan yang semuanya berkanaan dengan pemahaman yang lebih baik terhadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan itu terjadi.

Ketujuh, peneliti perlu membuat deskripsi otentik obyektif tentang tndakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video dan audio, riwayat subyektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi dan riwayat fiksional.

Kedelapan, peneliti perlu memberikan penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik. Hal ini mencakup 1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh wawasan teoritik yang relevan, pengaitan hasil dengan penelitian lain, 2) mempermasalahkan deskrioptif terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasil, dan 3) teorisasi yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu.

Kesembilan, perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk 1) tulisan tentang hasil refleksi diri dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri, 2) percakapan tertulis yang dialogis dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut, 3) narasi dan cerita, 4) bentuk visual seperti diagram, gambar dan grafik.

Kesepuluh, perlu untuk membuat validasi pernyataan tentang keberhasilan tindakan melalui pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti-bukti baik dilakukan sendiri maupun bersama teman, meminta bantuan sejawat untuk memeriksa dengan meminta masukan yang digunakan untuk memperbaiki, dan menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (publikasi).

Disarikan dari berbagai sumber


Related news items:
Newer news items:
Older news items:

 

UM | MIPA | Pimpinan UM | Elearning FMIPA | Physics Book