You are here: Home Berita Fisika UM Kuliah Tamu Hasyim Muzadi

Fisika UM

Kuliah Tamu Hasyim Muzadi

E-mail Print PDF

Senin (04/03/2012), FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kuliah tamu dengan tema "Membangun Ilmuwan dan Guru Berkarakter dalam Perspektif Agama". Namun yang spesial, kuliah tamu kali ini mendatangkan sosok istimewa. Tak pelak, acara yang dilangsungkan di Aula Utama FMIPA· sampai dipadati oleh sekitar 500 orang dari kalangan mahasiswa S1, S2, dosen sampai pejabat fakultas. Suasana pun begitu khidmat dan antusias. Beliau adalah Dr. (HC) K.H. Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Beliau juga pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

Kegiatan yang digagas oleh Jurusan Fisika UM ini bertujuan untuk memberikan pendidikan secara utuh kepada mahasiswa, dari segi perspektif lain, bukan hanya ilmu Fisika saja. Menurut Sekretaris Jurusan Fisika, Dr. Markus Diantoro, M.Si, mahasiswa perlu penyegaran, motivasi dan pembangunan karakter. "Mahasiswa tidak hanya dituntut untu belajar Fisika terus-menerus, tetapi juga ada nilai-nilai lain yang harus diimplementasikan" ungkapnya.

Dr. (HC) Hasyim MuzadiSelain itu masih menurut Markus, kegiatan ini juga merupakan ungkapan syukur atas capaian prestasi Program Studi (Prodi) Fisika yang tahun ini memperoleh akreditasi A. Lebih membanggakan, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) mendapatkan hibah terbanyak di seluruh UM dengan jumlah 57 orang.

Dalam sesi kuliah tamu, Hasyim Muzadi memaparkan tentang pengembangan karakter. Menurutnya, karakter harus didiskusikan dan dicontohkan. Dosen harus memberikan tanggung jawab terhadap keilmuannya agar mampu diimplementasikan dalam hukum dan pemerintahan. "Banyak orang pinter tapi yang baik masih sedikit" tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa membangun karakter itu ada dua, yaitu sosiohumanistik dan keagamaan. "Sosiohumanistik dapat diimplemetasikan dengan semisal membangun taman siswa. Sementara keagamaan bisa melalui ceramah, keseharian. Tapi yang terpenting adalah nurani dan rasa. Hal ini perlu agar seorang guru mampu mengejawantahkan pengajaran, pemahaman atau penghayatan dan tanggung jawab. Orang berilmu itu ya harus bertanggung jawab pada keilmuannya" tegas pria kelahiran Tuban, 68 tahun yang lalu itu

Untuk foto kegiatan, silahkan lihat disini
 

Add comment

Security code
Refresh


UM | MIPA | Pimpinan UM | Elearning FMIPA | Physics Book